Kamis, 27 Desember 2012

Proklamasi Menjadi Pasangan


Ini sebuah cerpen yang aku buat waktu Bu Dwi memberi tugas B.Indonesia sewaktu kelas 10, agar membuat cerpen tentang kisah pribadi. Aku pilih cerita cinta ku bersama Vijay Gerhana Putra. Tidak ada alasan yang signifikan kenapa aku memilih itu. yang jelas aku hanya ingin berbagi cerita saja dengan kalian. Memang tidak terlalu persis dengan kenyataannya hanya diedit sedikit agar lebih memperjelas. Tapi ini tidak direkayasa lho. So, silahkan membaca... :)




PROKLAMASI MENJADI PASANGAN


Disuatu hari yang panas dimana aku dan teman-temanku pulang sekolah, temanku yang bernama Era sedang berulang tahun dan kami akan pergi kerumahnya untuk sekedar makan-makan. Tiba-tiba ada suara yang berteriak memanggil “Ka Erraaa...”, ketika berpaling ternyata gadis cantik berkerudung ini ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk Era. Segera Era menghampirinya dan kami menunggu didekat warung kecil sembari berjalan lambat.  “Selamat ulang tahun ya ka..” kata Imel. Setelah bertegur sapa dengan Imel, Era menghampiri aku yang hendak mengobrol dengan Nanda sambil berkata, “Shel, ada yang nyukain elu tuh namanya vijay” (sambil menunjuk cowok  yang sedang menaiki sepeda). “Vijay siapa? Yang mana sih orangnya?”, kataku dengan rasa penasaran. Ketika aku menoleh ke dia, segera dia putar haluan sepedanya. Lalu aku dan teman-teman melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan aku pun menjadi bahan ledekan dan candaan. “Ciiieeee Vijay, priikiitiieew”, ledek teman-temanku.
Keesokkan harinya, kelasku hendak kosong tak ada guru yang mengajar. Dikeramaian kelas, ada yang memanggilku dan memberitahuku ada yang mau bertemu. Namun, aku tak keluar karena malu. “Shel, ada yang minta nomer elu tuh. Kasih nggak nih?’’ kata temanku yang berambut keriting bernama Alvi. Bel istirahat telah berbunyi, siswa-siswi pun langsung berlalu lalang disekitar kantin. Setelah aku ambil jajanananku dan ingin kembali ke kelas, nampak seorang cowok dengan gerombolannya memandangi aku. Aku pun berjalan dengan cepat menuju kelasku karena risih.
Seperti biasa di malam hari yang membosankan aku iseng membuka facebook. Aku pun lihat beranda dan sebagainya, ada satu pesan yang belum ku baca. Aku terkejut ternyata pengirim itu tidak lain dan tidak bukan adalah Vijay Gerhana Putra. Adik kelasku yang ternyata ingin berkenalan denganku. 


Sekilas ini isi Inbox Facebook Shelly dengan Vijay :

Vijay Gerhana Putra
Ini Kak Shelly kan? Kak aku pengen nanya nomer telepon Kak Shelly berapa? Konfirm aku ya..

Shelly Rachmawaty
Dede tau darimana nama kakak? Jawab dulu pertanyaan kakak nanti baru kakak kasih nomer telepon kakak

Vijay Gerhana Putra
Aku tau dari kakak sendiri sih waktu hari kamis, yang nanya temen aku dan aku juga ada disitu.
Aku tau kakak orangnya baik makannya aku mau temenan sama kakak. Jadi sekarang kakak mau ngasih nomer kakak dong. Inget kakak udah janji sama aku loh kalau kakak nggak nepatin janji, kakak akan aku bawa sampe akhirat.Jadi kita perhitungkan aja disana. Hayoo milih yang mana? J

Shelly Rachmawaty
Yaudah nih nomer kakak 08xxxxxxxxxx (unpublished). Awas loh jangan
disebarin ke orang lain. Okeh ! ^_^


Aku balas setiap pesannya, dia meminta untuk bertukaran nomer handphone. Setelah akrab lewat pesan singkat (SMS), dia semakin membuatku penasaran. Ketika aku mengupdate status di facebook ku, seseorang mengomentari statusku dan bilang Ekky pacarku. Karena itu Vijay pun tau kalau aku sudah memiliki pacar.
Selama aku kenal Vijay, aku semakin menjauh dengan pacarku Ekky. Handphoneku berdering dan ku buka sms ternyata dari Ekky. Seperti biasa isi pesannya tak jauh dari menanyakan lagi apa dan sudah makan apa belum. Kian lama hubungan aku seperti menjauh dan sudah tak seperti dulu, apalagi kami juga berbeda kelas tidak seperti diwaktu kelas 8 SMP yang setiap hari bisa bertemu dan bercengkrama singkat. Jarang bertemu dan hanya bertegur sapa, itu yang biasa kami lakukan ketika sesekali bertemu. Kurang lebih kami berpacaran hanya lewat telepon seluler.
Suasana semakin tidak menentu ketika ada yang ingin merusak hubungan aku dan Ekky. Entah tau darimana, Ekky pun tahu kedekatan aku dengan Vijay. Padahal kedekatan kami itu masih wajar layaknya adik dengan kakaknya. Namun Ekky tahu kalau sebenarnya Vijay memendam rasa kepadaku. Lewat pesan singkat yang sering Vijay kirim untukku, Ekky sedikit marah dan aku pun bingung harus bagaimana. Disisi lain aku memang sudah menyukai Vijay yang memiliki sifat lebih baik dari Ekky. Namun disisi lain aku tidak mau mengkhianati hubungan aku dan Ekky.  
Sekitar 7 bulan lamanya aku dan Ekky berpacaran, waktu yang lumayan lama untuk kami. Namun, sepertinya Ekky sudah tidak mau memedulikan aku lagi. Bertepatan dengan hari jadi yang ke 7 bulan itu, aku mencoba untuk meminta pisah. Yang tak pernah aku sangka, ternyata Ekky menerimanya tanpa ada kesedihan atau usaha untuk mencegah. Aku memang sedikit menyesal dan kecewa. 2 hari setelah kami putus, handphone aku berdering tanda bunyi sms. Ketika aku buka dan aku baca smsnya, Vivi temanku yang juga akrab dengan Ekky memberitahuku kalau Ekky mau kami balikan asal aku yang nembak dia duluan. Lama aku berpikir, aku pun mau mengikuti syaratnya itu. Dalam benakku, ku relakan Vijay untuk cewek yang lebih baik, dan aku berharap bisa menjadi yang terbaik untuk Ekky. Namun dugaan ku meleset, setahun lamanya aku dan Vijay berkenalan dan untuk beberapa bulan kami TTMan. Menjelang hari ulang tahunnya, aku berencana untuk mengerjainya. Aku membuat dia sangat kesal, dan akhirnya dia mulai menjauh dariku. Tak ku sangka ternyata sebenarnya dia berniat untuk menembakku waktu itu. Tapi aku malah balikan lagi dengan Ekky. Ya buatku itu adalah salah satu kesalahan yang ku perbuat. Lambat laun hubungan aku dan Ekky tetap tidak harmonis. Setelah itu, Ekky pun memutuskan hubungan kami.
Sekitar 2 hari aku dicomblangi dengan adik kelasku yang bertubuh besar dan gemuk yang merupakan teman Vijay juga, Dwi namanya. Tepat pada tanggal 28 september 2010, ada kejadian yang tak terpikirkan olehku. Vijay mengajak aku bertemu di samping kelasnya. Dengan hati yang deg-degan aku bercengkrama singkat dengannya ditemani Dwi yang kadang berusaha mendekat-dekatkan kami.
“Kakak udah putus ya sama Ekky?”, tanya Vijay dengan senyum yang merekah di bibirnya.
“Iya, kenapa?”, jawabku.
“Kalo gitu kakak mau ngga jadi pacar dede?”, tanyanya penuh senyum.
(aku pun tak menyangka dia bilang gitu secara langsung)
“Apa?”, kataku dengan hati berdebar-debar.
“Mau nggak?”, katanya lagi.
“Apa?”, kataku dengan suara bernada malu.
(dia mungkin agak kesal dengan jawaban aku yang tidak mengundang pasti)
“Kalo kakak jawab apa lagi, berarti jawaban kakak nggak ! (dengan intonasi kecewa)
Sambil mikir-mikir ya langsung ku jawab “eemmm.. iya deh !” jawabku dengan senyum malu.
“Iya apa kak?”, katanya dengan tatapan serius.
“Iya, kakak mau”, jawabku dengan hati berdebar .
“Hah, serius ka?”, katanya dengan senyum yang manis dan hati yang deg-degan.
“Iya”, dengan polos aku jawab.
“Berarti kita pacaran nih?” dengan mimik yang lugu.
 “He’eh,” jawabku dengan senyum yang polos.
Tak berlama-lama lagi, kami pun pulang. Sesampainya dirumah, aku pun merasa senang dan tak menyangka ini terjadi. “Vijay nembak gue”, kataku dalam hati ku dengan rasa senang. Ku beritahu teman akrabku sewaktu kelas 8, Vivi. Orang yang juga membantuku untuk bertemu dengan Vijay dikala sedang pdkt-an dulu.
Awal pacaran, kami masih malu-malu kucing. Setelah beberapa lama kemudian, berita kami pacaran menjadi gempar. Secara aku berpacaran dengan adik kelasku. Ya mungkin memang jarang seperti ini, namun kalau cinta pun tak terbatas usia.
Sewaktu pelajaran penjas, tak ku sangka Pak Ali guru yang mengajar olahraga kelasanku bertanya “kamu pacaran ya sama anak kelas 8?”. Dengan mimik yang bingung, aku langsung menjawab, “loh bapak tau darimana?”. “Ya tau lah, kok kamu mau sih pacaran sama dia. Dia kan bandel”, tanyanya yang buat aku penasaran. “Ya nggak apa-apa, Pak. Masa sih pak dia bandel? Ya nanti biar saya bilangin ngga boleh bandel”, jawabku dengan senyum. Lalu aku lanjutkan pelajaran olahraga di lapangan segiempat SMP ku.
Aku ceritakan itu dengan temanku, dan ternyata ada beberapa guru yang mengetahui hubungan aku dan Vijay. Karena itu, kadang aku menjadi bahan gurauan mereka, Vijay pun juga begitu. Status hubungan kami ini ternyata banyak direstui teman-teman kami. Ada yang bilang wajah kami juga sekilas mirip. Kata orang wajah yang mirip itu bisa jadi berjodoh (amiiieen).
Sewaktu ketika, Vijay pernah cerita kepadaku. Ketika hujan deras menjebak siswa-siswi disekolah, Vijay bertemu dengan Bu Tari yang merupakan guru PKN kami. “Vijay jangan mau pacaran sama yang lebih tua dari kamu, nanti kamu bisa dimanfaatin loh”, katanya didekat gerbang sekolah. “Kata siapa bu? Ngga mungkin deh kayaknya”, jawab Vijay polos. Pernyataan Bu Tari itu membuatku agak resah, khawatirku Vijay mempercayai itu. Kendatinya aku tidak seburuk yang dibilang Bu Tari itu. Untungnya Vijay juga tidak terlalu mendengarkan katanya.
Seiring berjalannya waktu, tak ku kira hubungan kami telah berumur 16 bulan. Waktu yang memungkinkan kami bisa dekat selamanya. Sekalipun sesekali kami sering bertengkar, tapi tidak memutuskan hubungan kami. Yang ku sesali, sejalan hubungan kami, aku pun menjadi jauh dan tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Ekky kecuali kalau ada reuni 8.6. Harapku tetap menjalin pertemanan dengannya. Tapi apa daya kami sudah memiliki pengganti masing-masing dan mungkin menjauh adalah jalan yang terbaik untuk tidak mengkhianati hubungan masing-masing.
Yah namanya juga hubungan, ngga jarang dihadapi dengan berbagai konflik. Disaat itulah aku dan Vijay sering dihadapi banyak ujian dalam hubungan ini. Tidak ada yang bisa selalu disalahkan disini, yang terpenting  kamipun sama-sama belajar dari setiap cobaan tersebut. Toh, namanya cinta kan patut diperjuangkan untuk dipertahankan.
Namun kami selalu berusaha menjadi yang terbaik satu sama lain. Kami memiliki saat-saat yang begitu indah dan sangat terkenang baik. Sehingga itulah yang kami sering kangeni disela-sela pembicaraan kami di telepon, sms, maupun saat berbincang-bincang. So, terkadang emosional pun meredam ketika kami mengingat masa-masa itu. Sekalipun terkadang masalah yang kami hadapi sering menguras air mata dan kekecewaan yang membuat hubungan kami sempat terputus. Tapi pada akhirnya, kami bersyukur karena takdir masih menyayangi kami agar tetap mempertahankan cinta suci ini.
****

Akhirnya Vijay pun lulus dari masa SMP-nya di SMPN 11 Tangerang, tempat dimana aku pun menamatkan Sekolah Menengah Pertamaku dan juga saksi bisu dari awal pertemuan kami. Vijay sekarang mengenyam bangku sekolah kelas 10 SMA di Budi Mulia. Otomatis sekarang aku naik level diatasnya, ya sekarang aku kelas 11 dimana aku menemui teman terbaik yang bersedia mendengarkan curhatanku yang sering membebani pikiranku. Dia adalah teman sebangku, cewe bertubuh tinggi, berambut panjang lurus bermodel segi bernama Chendy namun sering aku panggil cendil.
Dialah orang yang paling aku percaya dalam menjaga setiap cerita-ceritaku. Bahkan saat aku dalam keadaan galau dan butuh teman, dia bersedia memeluk ku dan mendengarkan setiap ceritaku. Hal yang paling sering aku ceritakan padanya adalah tentang kisah cintaku dengan Vijay yang pernah putus dalam waktu sementara.
Pernah waktu itu, dipagi hari setelah bel masuk berbunyi. Ketika itu kelas dipenuh dengan anak-anak sedang berlalu lalang menghampiri meja mereka masing-masing. Dan langsung ku hampiri Chendy, dan langsung menceritakan kegalauan yang aku rasakan ketika diputusi Vijay dulu. 
“Cheeeeennnddilll, tau ngga?? Gue mau curhat tapi lu masih mau ngedengerin gue kan?,” tampangku memelas.
“Apaa?? Pasti tentang Vijay nih,” tebaknya.
“Iya Ndil, aaaa gue sedih banget masa kemarin Vijay mutusin gue. Gue sedih banget ndil. Ah emang gue juga sih salah. Gue patah hati banget chen. Ya ampun padahal gue ngga pengen putus lagi,” kataku sambil sedikit meneteskan air mata.
“Lah kok bisa? Emang kenapa lu? Udah jangan nangis, paling ntar juga balikan lagi sih gue yakin,” katanya sambil mengelus pundakku agar aku lebih tenang.
“Tapi gue takut ndil, gue ngga mau kehilangan dia. Lu tau sendiri kan gue itu sayang sama dia. Gue takut gara-gara gue sering ngecewain dia, dia jadi ngejauhin gue. Padahal gue mau jadi yang terbaik buat Vijay, gue udah terlanjur sayang banget sama dia,” aku terus bicara menceritakan semua yang telah mengakibatkan kami putus sambil terus terisak-isak dalam air mata.
“Ya  mau gimana lagi, paling dia labil kali tuh tau sendiri dia itu masih anak baru gede. Kalo emang dia ngga bisa terima lu, lu harus move on Shel,”sarannya yang membuatku bimbang.
“Mana bisa sih Ndil, dan kalaupun bisa gue juga ngga mau. Gue ngga tau diri banget ya padahal dia selalu menjaga nama baik gue di depan teman-temannya, ngelindungin gue, meduliin gue dan sebagainya eh gue malah ngecewain dia mulu,” jelasku pada Chendy.
“Tapi lu sama dia masih komunikasian ngga?,” tanyanya.
“Ya masih sih tapi jarang, dan itu membuat gue semakin takut kehilangan dia. Jujur gue ngga rela Chen. Ya ampun kenapa kayak begini terus sih (sambil menangis). Bantuin gue kek Chen supaya bisa balikan lagi sama dia” jawabku.
“Kalo gue bisa juga gue bantu  Shel, lah orang gue aja ngga kenal sama Vijay,” katanya sambil sesekali mengelus pundakku.
“Iya juga sih. Oh iya gue mau bilang tentang apapun yang sering gue ceritain tentang Vijay, tolong banget ya elu atau yang lain jangan sesekali lagi bilang hal buruk tentang dia. Dia itu sebenernya baik, cuma kadang gue aja yang ngga sadar. Apalagi elu-elu padakan juga ngga kenal. Gue ngga suka aja siapapun yang ngga dia kenal tiba-tiba berprasangka buruk. Gue tau kok sifat baik dan buruknya, jadi tolong ya lu juga bilangin ke anak-anak supaya ngga terlalu ikut campur dan makin berprasangka buruk sama Vijay,” pintaku padanya.
“Ya kita kan ngomong berdasarkan fakta aja Shel, kita tuh ga tega lu disakitin terus sama Vijay. Tapi yaudah nanti gue ngga akan begitu lagi. Asal lu jangan nangis lagi.”
“Iya, faktanya emang Vijay sering mutusin gue. Tapi dia mutusin gue juga pasti ada alasan yang mungkin gue ngga tau. Gue yakin kok Vijay beneran sayang sama gue. Biarpun sering nyakitin gue, tapi ngga jarang pasti gue juga sering ngelakuin kesalahan yang bikin dia sakit,”
“Hhh.. tuhkan lu ngebela dia terus. Shel, cinta lu ke dia kayaknya udah mendalam banget yak sampe-sampe lu ngga mau banget kehilangan dia.”
“Yah gini aja deh, siapa sih yang rela kehilangan orang yang disayanginya. Gue tau mencintai terlalu dalam itu sedikit berlebihan. Tapi itu yang gue rasain Chen, dan mungkin lu juga pernah ngerasain itu.”
“Ya gue bilangin aja sih yak, cinta elu sama dia itu masih cinta monyet jangan terlalu diseriusin. Setiap gue denger cerita elu tuh berasa orang yang mau nikah dah, terlalu rumit.”
“Ya gue juga ngga ngerti Chen, tapi disetiap gue deket dia tuh, gue ngerasain kenyamanan.”
“Terus sekarang elu maunya gimana? Gue udah coba nasehatin elu tapi malah elu batu banget kalo dibilangin. Gue kan jadi bingung harus gimana.
“Yaaa Ndil maaf deh yak kalo gue sering ngerepotin, gue terima kok setiap nasehat lu tapi gue ngerasa sakit hati. Gue Cuma butuh elu yang siap denger uneg-uneg gue, sekalipun mungkin lu ngerasa udah bosen juga. Tapi Cuma elu yang gue percaya Chen. Maaf yaa,” kataku sambil menitikan air mata.
“Ya ampun Shel gue juga ngerti kok, ngapain elu minta maaf coba. Kapan pun elu mau cerita gue mau kok dengerinnya. Tapi elu jangan nangis-nangis mulu,” jawabnya dengan memeluk gue.
          Beberapa waktu kemudian datanglah Pak Guru masuk ke kelas ku. Disela-sela pelajaran, aku menunjukan sayatan-sayatan yang aku lakukan ketika sering merasa sangat tertekan. Sontak Chendy pun langsung marah dan mulai menghiasi kalimatnya dengan nasihat untukku agar tidak berbuat seperti itu.
“Chen, liat deh (sambil menyisingkan lengan baju sebelah kiri),” kataku dengan ketawa dan suara idiot yang biasa ku lakukan.
“Ya ampun Sheli, tangan lu diapain sampe kayak begitu? Elu stres dah beraninya begitu. Emang ngga sakit apah, itu tuh bakal bahayain elu Shel,” tanya dengan intonasi marah.
“Hihihi, abis gue gores pake jarum pentol. Ya sakit sih tapi gimana yak kalo lagi sedih mah kaga berasa sakit banget. Gue tau kok ini buruk, tapi semalem gue bener-bener stres eh tau-tau kepengen nyayat-nyayat aja. Gue stressss bro.. Hihihi,” kata ku sambil tertawa idiot.
“Issshh elu jangan idiot kenapa, masalah elu itu jangan dibawa stres terus yang ada bikin beban pikiran elu doang,” katanya sambil memasang muka marah.
“Yakan biar pada merhatiin gue gitu Chen, lagian gue juga ngga mau kali dibawa stres eh tapi udah terlanjut begini. Hehehe.”
“Bodo sih pokoknya elu jangan berbuat hal sekonyol kayak gini lagi. Gue ngga suka.”
“Hhmmm insya Allah kalo gue lagi bisa berpikir jernih.”
“Issh kalau dibilangin susah banget sih”
“Hehehe biarin ah udah kejadian gini sih.”
****
          Selama beberapa waktu, aku dan Vijay masih berkomunikasi seperti biasa dan membuat ku semakin tidak ingin lepas darinya. Oleh karena itu, aku memutuskan agar meminta kesempatan kedua padanya. Aku sempat tidak diterimanya lagi, namun terus ku coba lagi sampai akhirnya dia mau menerimaku kembali menjadi kekasihnya. Itu sangat membuat aku senang. Dan bisa tersenyum kembali serta berkomunikasi seperti sepasang kekasih lagi. Keesokan harinya aku pun menceritakannya pada Chendy.
(Keesokan paginya di dalam kelas)
“Cheeennddy.. hihihihi gue lagi seneng nih. Mau tau ngga?,” tanyaku dengan riang.
“Lu balikan lagi yak?,” tebaknya.
“Hihihi iya kemaren malem gue minta balikan lagi, alhamdulillah gue masih dikasih kesempatan dan diterima lagi sama Vijay.”
“Nah kan bener apa gue bilang, balikan lagi kan. Yaudah makannya lu jangan berbuat konyol kayak waktu itu lagi sih, ntar elu rugi Shel dan emang ngga akan ada untungnya kayak begitu. Kalau jodoh mah ngga bakal kemana sih.”
“Iya baweell, gue juga udah semalem ceritain itu ke vijay kalo gue ngenyayat-nyayat tangan gue. Eh dia juga sama marahnya kayak elu. Yaudah gue ngga akan begitu lagi kok, kan udah janji sama elu dan Vijay. Hehehe..”
“Elu kan udah memilih begitu, ya gue harap sih elu ngga nangis lagi.”
“Iya Ndill, insya Allah mudah-mudahan gue sama Vijay bisa jadi yang terbaik untuk sama-sama  mempertahankan cinta ini yak. Hehehe.. Makasiiih ya temaaan emuuah.”
“Iya dah Amiin.. gue mah cuma bisa bantu doa aja semoga Vijay ngga mutusin elu lagi.”
“Iya Amiin makasih yak Chen udah mau bantuin gue, semoga lu bisa cepet-cepet nyusul gue yak yang pastinya jangan kebanyakan galaunya.”
“Hhahaha.. doain aja yak gue bisa nyusul bareng Ebi (‘cowo yang disukai Chendy, pemain futsal persita yang banyak diidolakan kaum hawa di sekolahan’). Duuhh khayalan yang ngga mungkin banget terwujud yak,” memasang muka pesimis.
“Yahilaaah tenang aja Chen gue selalu doain kok supaya elu berdua bisa deket lagi. Jangan bilang ngga mungkin, pemilik tulang rusuk ngga bakal ketuker sih. Ya syukur-syukur kalau lu bisa move on. Cuma kalau ngga, ya gue dukung dah apapun yang bisa bikin lu seneng.”
“Hahahaha iya Shel, makasih yak.”
          Hubungan aku dan Vijay telah beranjak 31 bulan, cukup lama untuk benar-benar saling terbuka satu sama lain. Kadang kami lucu sendiri setiap mengingat-ingat masa-masa yang terkenang dalam sejarah cinta kami. Butuh waktu satu tahun lamanya kami berdekatan alias pdkt-an. Satu tahun setelah pacaran , kami mulai beradaptasi dengan lingkungan dan gaya pacaran yang masih malu-malu kucing. Dan setahun yang kami lewati setelah aniverssary yang kedua tahun, cukup ada perkembangan yang sering menjadi masa-masa indah kami. Kami mulai sering melakukan hal-hal tanpa harus bersikap jaim atau malu-malu kucing lagi. Bisa dibilang lebih terbuka satu dengan yang lainnya. Dan bagaimana kami selanjut dalam waktu satu tahun kedepan masih menjadi hal misterius buat kami. Ya, semoga saja membaik terus. Amiin.. 

          Namun dalam hubungan kami yang telah berjalan 31 bulan ini, ada hal yang tidak wajar bagi hubungan yang telah dilalui selama itu. Kenapa tidak wajar? Ya bagaimana tidak, bayangkan saja aku dan Vijay sangat jarang berfoto berdua, hanya sedikit yang kami punya tentang  gambar wajah kami berdua yang kami simpan. Mungkin karena aku yang masih pemalu untuk berfoto berdua dengannya. Dan itu lah sempat pernah menjadi konflik dari sebab perpisahan kami dulu. Walaupun itu sangat membuat Vijay geram, namun seiring berjalannya waktu Vijay menerima ku kembali sekalipun rasa bersalah itu pun terkadang membuatku sedih. Namun Vijay masih mau untuk menyayangi aku dengan tulus, tanpa membesar-besarkan kemarahannya. Dari setiap sebab yang mengakibatkan perpisahan kami, selalu menjadi pelajaran berharga agar kami lebih dewasa dalam menyikapi setiap masalah dan ujian dalam suatu hubungan. Dengan cinta yang tulus, kepercayaan, dan kesetiaan dalam suatu hubungan pun insya Allah akan membantu kami dalam melewati masalah itu bersama-sama. JJ

  ~SEKIAN~

2 komentar:

Unknown mengatakan...

makasih sayang

Unknown mengatakan...

iya sama-sama :)

Posting Komentar